Select Menu
Select Menu

Favorit

Buku Referensi

Buku

Pergerakan Islam

Tokoh

Rumah Adat

Syamina

Pantai

Seni Budaya

Kuliner

Allah 'Azza wa Jalla berfirman dalam kitab-Nya yang mulia :


“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang mutad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya wali (penolong ) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi wali (penolong)nya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Maidah : 54-56)




Allah 'Azza wa Jalla menerangkan tentang beberapa sifat orang-orang yang dicintai-Nya yaitu: mereka cinta kepada-Nya, bersikap lemah lembut kepada orang-orang beriman, berlaku keras terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan orang yang suka mencela.

Wahai kalian yang telah ridha Allah sebagai Rabb kalian, Islam sebagai dien kalian dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul kalian, ketahuilah bahwasanya Allah 'Azza wa Jalla telah menurunkan di dalam Al-Qur’an Al-Karim :
                                 
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.” (QS. Al-Mumtahanah : 2)

Wahai kalian yang telah ridha Allah sebagai Rabb kalian, Islam sebagai Dien kalian dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul kalian, ketahuilah bahwa Allah 'Azza wa Jalla telah menurunkan di dalam Al-Qur’an :
                                              

 “Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan tiadalah sekali-kali Allah menjadikan suatu kesempitan atas kamu dalam (urusan) agama. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim”. (QS. Al-Hajj. 78)

Kata Jihad menurut bahasa berarti mengerahkan segenap daya dan kemampuan untuk meraih apa yang disukai Al-Haq dan menolak apa yang dibenci Al-Haq. Sedangkan menurut istilah syar’i, kata Jihad mempunyai pengertian  : berperang serta memberi bantuan orang yang berperang.


JIHAD ADALAH QITAL (PERANG)

Para Imam dari golongan madzhab yang empat telah bersepakat bahwa kata jihad berarti qital (perang). Hanyasanya golongan Hanafiyah sedikit memperluas pengertiannya. Mereka mengatakan : Jihad adalah berdakwah kepada (Dien) Allah dan memerangi mereka yang menolak dakwah tersebut.

Dengan demikian kata jihad menurut istilah syar’inya adalah perang. Adapun menurut makna bahasa, kata tersebut mengandung makna yang lebih luas. Mencakup juga pengertian bermujahadah melawan hawa nafsu, bermujahadah melawan hasrat diri, bergulat melawan syetan, berjuang melawan kelalaian untuk membangkitkan hati dari tidurnya dan sebagaiya.

Ada sementara orang yang selalu mendengung-dengungkan hadits maudhu’ (palsu) yang berbunyi :

“Kita telah kembali dari jihad yang lebih kecil kepada jihad yang lebih besar”.

Sesungguhnya perkataan ini tidak pernah diucapkan sama sekali oleh Rasulullah saw. Perkataan ini dinukil oleh sebagian ulama salaf dari salah seorang tabi’in yang bernama Ibrahim bin ‘Ablah. Mereka yang menukil perkataan ini, meriwayatkan perkataan tersebut dari Isa bin Ibrahim dari Yahya bin Ya’la dari Laits bin Aslam. Ketiga perawi ini adalah dha’if (lemah). Dan hadits yang mereka riwayatkan dha’if menurut kesepakatan para ulama, bahkan lemah dan mungkar (tidak dikenal).

Oleh karena itu, pengertian yang sebenarnya adalah bahwa jihad yang terbesar adalah memerangi musuh di medan pertempuran. Adapun mereka yang mengatakan jihad melawan musuh adalah jihad kecil, maka sebenarnya mereka tidak mengenal medan pertempuran dan tidak mengetahui dahsyatnya peperangan. Mereka yang hidup di bawah desingan peluru, dentuman meriam dan raungan pesawat tempur mengetahui, itulah yang dinamakan jihad besar.

Oleh karenanya, sewaktu Rasulullah saw ditanya :

“Apakah orang yang mati syahid masih akan difitnah di dalam kuburnya?” maka beliau menjawab, “Cukuplah kelebatan pedang di atas kepalanya sebagai fitnah.” (HR. An-Nasa’i, lihat Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir  no. 4483).

Artinya : Cukuplah baginya kecemasan dan ketakutan yang dialaminya serta musibah yang dideritanya selama berperang di medan pertempuran itu sebagai fitnahnya. Sampai-sampai karena kebijaksanaan Allah dan keadilan-Nya, maka Dia tidak mengulang fitnah atas orang yang mati syahid untuk yang kedua kali. Yakni fitnah selama berperang dan fitnah pertanyaan dari malaikat Mungkar dan Nakir.

Akan tetapi untuk mendapatkan ketinggian puncak ini, maka seseorang harus melaksanakan faridhah jihad, harus menjinakkan dirinya dan harus selalu mengikatkan diri dan jiwanya kpada Al-Khaliq swt.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, memuji (Allah), yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu'min itu.” (QS. At-Taubah : 111-112)

Dimulai dengan taubat, lalu beribadah, lalu dzikir, lalu shiyam, kemudan setelah itu akan sampai ke puncak tertinggi Islam, yakni Jihad fie sabilillah atau perang di jalan Allah. Kemudian Allah 'Azza wa Jalla mengambil sebagian dari orang-orang yang beriman itu sebagai syuhada’. Dan sesungguhnya Ia hanya mengambil orang-orang yang bersih dan baik di antara mereka. Oleh karena itu Allah 'Azza wa Jalla berfirman :

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran : 139-140)

Syahadah (mati syahid) itu merupakan pilihan dan saringan. Pilihan dari Pencipta makhluk, Rabb pemilik bumi dan langit, yang mengetahui rahasia yang nampak dan yang tersembunyi. Dia tidak memilih kecuali orang-orang yang memang berhak mendapatkan kedudukan ini. Dan tiada yang dapat mendaki ke sana kecuali orang-orang yang berhak mencapai puncak ketinggian itu. Dan seseorang dapat mencapai kedudukan itu hanya berkat anugerah dan karunia dari Allah.

Sekali lagi, untuk mencapai kedudukan sebagai mujahid dan untuk merengkuh syahadah, maka seseorang harus menjinakkan dirinya, mendidiknya serta melatihnya, sehingga ia mampu bertahan di atas jalan yang panjang dan terang ini, jalan yang sulit penuh dengan onak dan duri dan bersimbah darah di sana sini. Maka dari itu, siapa saja yang berkeinginan mengaruni jalan yang penuh bara api dan duri ini, maka hendaklah ia melatih dirinya untuk sabar menanggung segala macam musibah dan menahan segala kesulitan yang dialaminya.

HALANGAN DAN RINTANGAN

Diri seseorang merupakan perintangan pertama bagi mereka yang hendak melangkah di jalan yang mendaki ini. Sebagaimana ucapan Ibnul Qoyyim rhm. “Ketahuilah bahwa diri itu merupakan gunung besar yang merintangi jalan mereka yang melangkah menuju keridloan Allah. Tidak mungkin seseorang bisa menempuh jalan tersebut sebelum ia melewati gunung yang besar itu”.

Jalan yang mendaki dan sulit ini… gunung yang besar ini, disertai pula dengan lembah-lembah, bukit-bukit dan jurang-jurang yang dalam. Syetan berdiri di atas puncaknya dan memperingatkan dengan maksud menakut-nakuti orang yang berusaha untuk mendaki puncak ketinggian tersebut. Perintang yang datangnya dari diri sendiri ini harus kamu lewati sehingga kamu sampai ke jalan Allah yang aman. Jalan keselamatan yang diterangi oleh wajah Allah swt.

Maka dari itu kamu harus mendaki gunung ini. Setiap mana seorang muslim mencoba untuk menaikinya, maka syetan meneriakinya, hawa nafsu menariknya, syahwat melemahkan kemauannya. Semua bermaksud untuk melengketkan ke bumi, meski orang tersebut adalah ulama besar. Maka dari itu harus melepaskan dirinya dari segala macam keterikatan, dari segala macam ikatan dan belenggu sehingga tubuhnya menjadi enteng dan dapat mendaki puncak yang tinggi itu. Apabila ia berhasil mendaki puncak itu, maka ia akan menemukan jalan yang aman, seperti yang difirmankan Allah Azza Wa Jalla:


                                    (kht)

“Allah menyeru (manusia) ke negeri keselamatan (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus”. (QS. Yunus: 25)

Dan ia adalah jalan yang diterangi dengan cahaya,lurus, aman, lagi menjamin keselamatan. Yaitu sesudah mana seseorang berhasil melewati rintangan besar yang menghadangnya. Rintangan itu adalah hawa nafsu yang selalu mendorong berbuat jahat.

SEBAB YANG MENARIK MANUSIA KEPADA KEHIDUPAN DUNIA

Pertama: Kebodohan


Sebenarnya banyak sekali faktor yang membantu nafsu (yang selalu mendorong berbuat jahat) untuk mengikat pemiliknya kepada kehidupan dunia. Diantara yang utama adalah “kebodohan”. Kebodohan adalah kubangan yang busuk baunya, mengikat setiap yang mempunyai hawa nafsu dengan kebusukannya sehingga iapun tenggelam dan menyelam dalam lumpurnya yang berbau busuk.

Kebodohan merupakan faktor terbesar yang merintangi perjalanan seseorang kepada Allah Azza Wa Jalla. Merintangi kaki dari belenggu yang mengikatnya. Merintangi ruh yang akan melepaskan diri dari belenggunya. Kebodohan, apabila telah menimpa diri seseorang, maka terkadang akan membuatnya mengingkari adanya matahari meskipun ia melihat di siang hari bolong.


                                   

“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka (1) niscaya mereka juga tidak beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti (bodoh)”. (QS. Al An-aam : 111)

(1) Maksudnya : untuk menjadi saksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah.


Andaikata orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, para malaikat datang, dan seluruh binatang liar datang serta berbicara kepada mereka; tetap saja mereka tidak beriman. Penyebabnya adalah kebodohan (akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti).

Bodoh disini bukan berarti kurang pengetahuan, akan tetapi “tidak mengerti”. Orang yang mengetahui tentang Allah adalah yang takut dan bertaqwa kepada Nya. Sebagaimana firman Allah :

“Apakah kamu hai orang-orang musyrik yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada (adzab) akherat dan mengharap rahmat Rabbnya? Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ? “Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS. Az Zumar : 9)

Orang yang beribadah, berdiri sholat sepanjang malam, mengharap surga yang dijanjikan Rabbnya, takut terhadap adzab Nya; adalah orang-orang yang dikatakan `alim (berilmu/mengetahui).

Ibnu Mas`ud   r.a. berkata,


                                   

” Bukanlah yang dinamakan ilmu itu dengan banyaknya riwayat (yang dihafalkan), tetapi ilmu adalah sesuatu yang mendatangkan rasa takut”.

Mari kita simak bersama perkataan nabi Yusuf As,

“ Dan jika engkau tidak dihindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku akan menjadi diantara orang-orang yang bodoh”. (QS. Yusuf : 33)

Yusuf mengetahui bahwa zina adalah perbuatan keji dan suatu kemaksiatan yang besar. Namun demikian, pengetahuan nabi Yusuf akan kekejian perbuatan tersebut tidak menafikan predikat bodoh andaikan ia terjerumus ke dalamnya. Jadi kebodohan adalah rintangan yang paling besar yang menghadang di depan jalan mendaki dari gunung yang dinamakan’Hawa nafsu yang selalu mendorong berbuat jahat’.

Oleh karenanya, Nabi Musa As menjawab perkataan kaumnya ketika ia menyuruh kepada mereka menyembelih sapi betina dan mereka mengatakan, “Adakah engkau akan menjadikan kami bahan olok-olokan?”.


                                   

“Aku berlindung kepada Allah menjadi diantara golongan orang-orang yang bodoh

(QS. Al Baqarah : 62)

Beliau tidak menjawab dengan ucapan, “Aku berlindung kepada Allah menjadi diantara golongan orang-orang yang mencemooh”.

Oleh karena kebodohan lebih besar bala`nya daripada  mencemooh. Bodoh terhadap Allah sebab yang menjadikan seseorang mencemooh dan memperolok-olok yang lain.

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya dikala mereka berkata, “Allah tidak menaruhkan sesuatu kepada manusia”. (QS. Al An `aam : 91)

Sikap tidak menghormati Allah serta tidak mengagungkan Nya adalah yang dinamakan jahil/bodoh terhadap Allah `Azza Wa Jalla. Ma`rifat atau pengetahuan tidak menafikan kebodohan. Kadang ma`rifat dan kebodohan bertemu dalam diri seseorang, ilmu adalah lawan dari kebodohan. Dan ilmu itu sendiri adalah rasa takut. Boleh jadi seseorang banyak mengetahui sesuatu dan banyak mengerti sesuatu, akan tetapi sebenarnya ia tidak mengetahui kecuali sedikit saja.
“Aliif lam miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat (1) dan sesudah mereka dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah.Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar-Ruum : 1-7)

Mereka mengetahui seluk beluk dan rahasia atom, putaran elektron, kapal terbang, kapal perang, jet-jet tempur serta teknologi tinggi yang lain. Mereka mengetahui itu, akan tetapi mereka lalai terhadap kehidupan akhirat. Maka dari itu mereka dikatakan kaum yang tidak mengetahui.

Oleh karena itu para ulama berkata, “Orang yang berolok-olok atau bersenda gurau dengan ayat Al-Qur’an adalah fasik”. Dan sebagian dari mereka berpedapat kufur.

Misalnya ada sekumpulan orang yang sedang menghadapi jamuan makanan. Lalu salah seorang dari mereka maju untuk mengambil makanan seraya berkata, “Wa nasafnal jibaala nasfaa, artinya : “Dan kami hancurkan gunung-gunung itu sehancur-hancurnya.” Maka perbuatan seperti itu tergolong perbuatan fasik menurut jumhur ulama, dan kufur menurut sebagian di antara mereka. Sebab ayat Al-Qur’an adalah firman Allah, bukan untuk bahan olok-olokan ataupun senda gurau.


                                   

“Katakanlah,“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah : 65-66)

Maka dari itu, waspadalah dari persoalan ini. Kalian jangan menjadikan hadits-hadtis Nabi dan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai bahan untuk melucu dan menghibur agar orang-orang tertawa dan senang. Kalian harus berhati-hati dan tetap mengagungkan Allah, karena Dia adalah Dzat yang Maha Perkasa, Maha Agung, Maha Suci dan Maha Luhur.


Wahai kalian yang telah ridha Allah sebagai Rabb kalian. Islam sebagai Dien kalian dan Muhammad saw sebagai nabi dan rasul kalian. Ketahuilah, bahwasanya Allah 'Azza wa Jalla telah menurunkan di dalam Al-Qur’anul Karim

                                  

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi : 28)

“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi hari dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim. Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian yang lain (orang-orang yang miskin), supaya (orang-orang yang kaya) berkata, ‘Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?’ (Allah berfirman), ‘Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?’. Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, ‘Salaamun-alaikum’. Rabbmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am : 52-54)

Wahai kalian yang telah ridha Allah sebagai Rabb kalian, Islam sebagai dien kalian, Muhammad sebagai nabi dan rasul kalian, ketahuilah bahwa Allah 'Azza wa Jalla telah menurunkan dalam Al-Qur’an Al-Karim :
     
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq : 2-3)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah 'Azza wa Jalla akan mencukupi siapa saja yang bertawakkal kepada-Nya. Tawakkal adalah setengah daripada dien dan setengahnya lagi adalah ibadah. Adapun dien itu sendiri adalah ibadah dan isti’anah(memohon pertolongan). Karena itu allah Ta’ala berfirman :
           

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami minta pertolongan.”

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan isnad shahih atau hasan.
“Tiadalah dua srigala lapar yang dilepaskan di tengah kawanan domba, lebih merusak kawanan domba tersebut daripada kerusakan yang diakibatkan sifat tamak seseorang kepada harta dan kedudukan terhadap agamanya.” (Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir :5620)